Ada beberapa orang yang pasti ketika mendengar kata swasta dia hanya akan memandang sebelah mata. Begitu juga sekolah Muhammadiyah, pada hal juga tidak separah yang mereka banyangkan. Mungkin benar dari segi kualitas SDM kita masih kurang tapi sebenarnya fasilitas yang diberikan harusnya mampu menyokong kekurangan ini.
Siapa yang patut dipersalahkan dari semua ini?
Mentalitas
Ketika suatu kali aku bicara ini pada seorang temanku, dia berpendapat bahwa sebenarnya yang jadi masalah adalah mentalitas dari dosen dan mahasiswa itu sendiri. Menurutnya juga kalau m,ahasiswa di Swasta itu ada kecenderungan karena masuknya saja sudah terpaksa karena tidak diterima di negri, dan ini membuat suatu pola piker yang mendasar pada mereka bahwa mereka ini sudah kalah telak. Tentunya harapan sebagian besar dari mahasiswa memang diterima di pergutuan tinggi karena memang terbukti di Indonesia perguruan tinggi mempunyai berbagai tawaran yang lebih tinggi dari swasta. Kekecewaan inilah yang terkadang terbawa oleh perasaan takut untuk bersaing. Dan bahkan lebih ekstream lagi mereka yang berpendapat bahwa dirinya tidak bisa berkompetisi secara akademik kemudian lari ke kegiatan organisasi, atau yang sering disebut sebagai organisatoris. Tidak salah memang jika sebagian dari mereka menjadi gembong dari kegiatan organisasi yang tidak mungkin mereka dapatkan kalau hanya berada di akademik. Tapi ada masalah yang kemudian timbul, yaitu lamanya mereka untuk wisuda. Entah karena alasan apa, mungkin malas, terlalu mencintai organisasi atau tidak siap menghadapi tantangan. Mentalitas inilah yang sepertinya mulai di bangun oleh mahasiswa swasta, jangan sampai kita dianggap remeh karena memilih swasta. Bersyukur juga merupakan kunci yang tak pernah habis akarnya.
Aku ingat juga nasehat dari ibunya temenku kalau orang pintar dimanapun dia berada tetap saja pintar, jadikan itu sebagai salah satu prinsip agar kita berjalan lebih mudah.
Aku bangga dengan universitas yang membesarkan serta mengenalkanku LPM Pabelan.